Showing posts with label Sejarah Yang Hilang ... Ahlul Bayt. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Yang Hilang ... Ahlul Bayt. Show all posts

Friday, May 8, 2009

Ghadir Khum dan Saqifah

Salam,

Setelah turunnya [Q.S. Al-Maidah 67], maka kemudian Rasul SAWW menyampaikan
khutbahnya, di antara isinya yaitu :
1. Memerintahkan manusia untuk berpegang pada Al-Qur'an dan mentaati Ahlul Bait Rasul (AS) sepeninggal beliau, karena keduanya tak akan pernah berpisah sampai bertemu dengan beliau di Surga (Al-Haudh). Lihat posting saya yang bertajuk "Mentaati Ahlul Bait (AS)".

2. Mengumumkan bahwa penerus kepemimpinan beliau adalah Ali (AS) dan memerintahkan seluruh manusia untuk mengikuti kepemimpinan Ali (AS) sepeninggal beliau.
Kalimat Rasul SAWW adalah :
"Siapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka inilah Ali pemimpinnya, Ya Allah tolonglah orang yang menolong Ali, dan Musuhilah orang yang memusuhi Ali".

Tentang pengangkatan Ali (AS) telah banyak diriwayatkan oleh segala kalangan ulama, seperti ahli hadits, ahli tarikh, tafsir, dll.

Berikut referensinya.

A. Ahli Hadits :

1. Al-Hakim, dalam "Mustadrak"
2. Adz-Dzahabi, dalam "Talkhisul Mustadrak"
3. Turmudzi, dalam "Nawadirul Ushul"
4. Muslim, dalam shohihnya
5. Nasa'i, dalam shohihnya
6. Ahmad bin Hambal, dalam musnadnya
7. Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal"
8. Ibnu Majah, dalam Sunan-nya


B. Sanad periwayatan :

110 sahabat, seperti Zaid bin Arqam, Anas bin Malik, Jabir Al-Anshori, Hudhaifah bin Usaid Al-Ghifari, Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah,.....dst.
[selebihnya pada kitab: "Al-Ghodir" oleh Al-Amini].


C. Pemikir Muslim :

1. Ibn Taimiyyah dalam "Al-Aqidatul Wasithiyyah"
2. Al-Ghazali, dalam "Siyar Al-Alamin"
3. Ibnu Al-Jauzi, dalam "Tazkirah Al-Khawas"
4. Ibnu Katsir, dalam "Al-Bidayah Wan Nihayah"

D. Ahli Tarikh :

1. Al-Ya'qubi, dalam tarikhnya
2. Ibn Abil Hadid, dalam tarikhnya
3. Thabari, dalam "Riyadh An-Nadhirah" dan "Al-Wilayah fi Thuruqi Hadits Al-Ghodir"
4. Ibnu Asakir, dalam tarikhnya
5. Ibnu Atsir, dalam "Usudul Ghobah"
6. Ibnu Abdil Barr, dalam "Al-Isti'ab"
7. Ibnu Abdu Rabbih, dalam "Al-'Iqd al-Farid"
8. Al-Jahidz, dalam "Utsmaniyyah"
9. Ibn Katsir, dalam Tarikh-nya
10. Ibnu Abi Hatim.
11. Ibn Mardawaih.

E. Ahli Tafsir :

1. Fakhrur-Razi, dalam tafsirnya
2. Abu Ishaq Ats-Tsa'labi, dalam tafsirnya
3. Suyuthi, dalam "Al-Hawi lil Fatawi"

F. Penyair Muslim :

1. Hasan bin Tsabit Al-Anshori
2. Abu Tamam At-Tha'iy
3. Al-Kumait Al-Asdiy

Sumber-Sumber Rujukan lain :
1. Al-Hamid Al-Husaini, dalam "Imamul Muhtadin", penerbit Yayasan Al-Hamidiy.
2. KH. Abdullah Bin Nuh, dalam "Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW", penerbit Toha Putra.

Saat terjadi peristiwa Ghodir Khum, dimana Ali bin Abi Tholib dinobatkan sebagai Pemimpin kaum muslimin, maka Abubakar dan Umar mengatakan :
"Selamat untukmu wahai putera Abi Tholib. Kini engkau adalah pemimpinku dan pemimpin kaum mukmin dan mukminat"

Ref. ahlusunnah :
1. Ahmad, dalam Musnad, jilid 4, hal. 281.
2. Al-Ghazali, dalam "Siyar Al-Alamin".
3. Ibnu Al-Jauzi, dalam "Tarikh Al-Khawas".
4. Thabari, dalam "Riyadh An-Nadzirah".
5. Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal".
6. Tafsir Ar-Razi.
7. Ibnu Katsir, dalam "Al-Bidayah Wan Nihayah".
8. Tarikh Ibnu Asakir.
9. Habib Al-Hamid Al-Husaini, dalam "Imamul Muhtadin".
dll.

Berdasarkan keterangan saya di atas dan posting sebelumnya. Bahwa Rasul SAWW (atas perintah Allah SWT) telah mengangkat Imam Ali (AS) sebagai penggantinya.
Yang hal ini diketahui oleh Abubakar dan Umar serta semua sahabat. Bahkan mereka memberikan selamat pada Imam Ali.

Sehingga kalau kemudian terjadi peristiwa Saqifah, jelas ini bertentangan dengan wasiat dan ketentuan Rasul SAWW tersebut. Sehingga tidak ada alasan lain selain alasan politik.

Pertemuan tersebut terjadi saat keluarga Rasul SAWW masih sibuk mengurusi jenazah Rasul SAWW.

Terbukti pemilihan di saqifah tersebut telah menyebabkan perpecahan di antara sahabat. Antara kubu Sa'ad bin Ubadah dan kubu Abubakar & Umar. Saat terjadi perdebatan dan keributan di situ, lalu dengan serta merta Umar mengumumkan bahwa kekhalifahan dipegang oleh Abubakar, dan yang menentangnya akan dibunuh.
Sampai akhirnya Sa'ad bin Ubadah tidak mau sholat bersama Abubakar dan Umar.

Ref. ahlusunnah :
1. Ibn Qutaibah, dalam "Tarikh Khulafa".
2. Ibnu Hisyam, dalam "Siroh Nabawiyyah".
3. Abubakar Al-Jauhari, dalam "Saqifah".
dll.

Namun kemudian setelah peristiwa Saqifah tersebut, Umar sendiri mengatakan bahwa pemilihan Abubakar di Saqifah oleh beberapa sahabat tersebut adalah "faltah" (kesalahan), dan yang mengulangi cara bai'at tersebut mesti dibunuh, atau paling tidak bai'at-nya tidak sah (tidak diakui). Atau istilah lain, faltah yang terjadi sebagaimana faltah-nya jahiliyah.

Ref. ahlusunnah :
1. Shohih Bukhori, jilid 4, hal. 127.
2. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 244, bab "Saqifah".

Itulah akibat pelanggaran dari perintah Allah dan Rasul-Nya, yang akhirnya justru menyebabkan perpecahan umat sampai sekarang.

Wassalaam,

sumber www.fatimah.org

~ ku jejaki ahlul bayt kerana ku ingin menjadi sebahagian dari mereka - Ummu Husseini~

Sejarah Muhammad Rasulullah saw

Lagi-lagi sebuah sejarah dilupakan, seakan-akan mereka tidak pernah tahu atau mungkin tidak mau tahu, ini adalah sejarah yang tak boleh dilupakan, karena inilah sebab awal penciptaan dan akhir penciptaan, ia bermula 14 abad yang lalu di sebuah kota kecil, sebuah kota yang panas dan tandus yang dipenuhi dengan penyembahan terhadap kayu-kayu dan batu-batu yang tak dapat berbuat apa-apa dan juga disana terdapat sebuah kotak hitam yang dikelilingi oleh “berhala-berhala” yang sekarang telah berubah wujud tapi memiliki wujud “berhala” yang sama.

Sungguh tak terpikirkan betapa bodoh manusia zaman itu, ialah sebuah jazirah yang disebut jazirah Arabia, perbuatan buruk dan haram, perampokan, pembunuhan bayi,minum-minuman keras, yang memusnahkan segala kebajikan dan moral menempatkan masyarakat jazirah Arabia ini dalam situasi kemerosotan yang luar biasa. Mereka terpecah-pecah menjadi kabilah-kabilah (bani/kaum).

I. Kelahiran Sang Nabi

Pada saat yang sangat kritis ini muncullah sebuah bintang pada malam yang gelap gulita, sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang benderang, ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar biasa, bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi, ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal dengan Nama Muhammad, menurut sejarawan bintang ini tepat terlahir tanggal 17 Rabi’ul Awwal (12 Rabi’ul awwal menurut mazhab sunni) 570 M, bintang ini tak pernah padam walaupun 14 abad setelah ketiadaannya, bahkan ia semakin terang dan semakin terang, dari bintang ini terlahir 13 bintang yang lain, yang selalu menjadi hujjah bagi bintang-bintang yang sulit bersinar lainnya di setiap zamannya.

Ia memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara Tauhid melalui anaknya Ismail AS, yang dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam, karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada maksud, ia adalah rencana Tuhan yang teramat besar yang langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya. Peristiwa kelahiran sang bintang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang luarbiasa, dimulai dengan peristiwa padamnya api “abadi” di kerajaan Persia, hancurnya sesembahan batu di sana, dan penyerangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah, yang di kemudian hari menjadi kiblat baginya dan ummatnya sampai akhir zaman, namun tentara yang besar ini dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Sang Pemilik kiblat (Ka’bah), karenanya tahun ini dinamakan tahun Gajah.

Sudah menjadi tradisi kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah, Ibundanya Aminah, kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Ibrahim AS). Abdullah lahir kedunia hanya untuk membawa nur Muhammad dan “meletakkannya” ke dalam rahim Aminah, Sang isteri saat itu mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama kepergian sang suami, sang isteri merasakan kesepian yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat.

Namun pada saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia melihat rombongan dagang suaminya telah pulang, tapi Ia amat terkejut karena tak dilihatnya suaminya, datanglah seseorang dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita kepada Aminah, mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata – kata ini kepada wanita ini, ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di abwa.

Begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini, tak sanggup menahan tangisnya, ia menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari, namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik – baik. Ia berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa as). Dalam mimpinya sang wanita mulia ini berkata : “Kelak bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat raya, maka jagalah ia baik – baik hingga kelahirannya.

Saat ayahanda Muhammad yang mulia ini Wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain – 17 tahun), sang bintang kita ini sedang berada dalam kandungan ibunya, beberapa tahun kemudian Bunda Sang bintang menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga. Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, sang bintang (Muhammad) diasuh oleh pamannya, Abu Tholib, seorang putra Abdul Mutholib yang pertama menyatakan keimanannya kepada kemenakannya sendiri (Muhammad).

Pemandu ilahi selalu saja dipilihkan oleh Ilahi untuk memiliki profesi sebagai seorang gembala, melalui profesi ini beliau mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk menjadi “gembala” domba yang lebih besar, inilah pilihan Ilahi yang memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang hina yang berpikiran sampai menyembah aneka batu dan pohon, ilahi menjadikannya kuat sehingga tidak menyerah kepada apapun kecuali keputusan-Nya.

Ada penulis sirah yang mengutip kalimat Nabi berikut ini, “ Semua Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan.” Orang bertanya kepada Nabi,” Apakah Anda juga pernah menjadi gembala?” Beliau menjawab,” Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang Mekah di daerah Qararit.”

Sang bintang terlahir bukan dari kalangan orang yang teramat kaya, belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim, dan telah kehilangan Ayah, Ibu di masa kecil sebagai tempat bernaung, apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka. Mari kita masuk ke jazirah Arabia lebih jauh lagi, kita dapat melihat bahwa kondisi keuangan Muhammad terbilang cukup sulit. Muhammad terkenal dengan kemuliaan rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di masyarakat sebagai “orang jujur” (al-Amin), ia menjadi salah seorang kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain.

Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, siap bertolak, kafilah tiba di tempat tujuan. Seluruh anggotanya mengeruk laba. Namun, laba yang diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Kafilah kembali ke Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati negeri ‘Ad dan Tsamud. Keheningan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian sang bintang. Kafilah mendekati Mekah, Maisarah, berkata kepada sang Bintang, “Alangkah baiknya jika Anda memasuki Mekah mendahului kami dan mengabarkan kepada Khodijah tentang perdagangan dan keuntungan besar yang kita dapatkan.”

Nabi tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah menceritakan “Di Busra, Al-Amin duduk di bawah pohon untuk istirahat.

Seorang pendeta, yang sedang duduk di biaranya, kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya kepada saya, kemudian ia berkata, ‘Orang yang duduk di bawah naungan pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil. Kemudian Khodijah menceritakan apa yang didengarnya dari Maisarah kepada Waraqah bin Naufal, si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, “Orang yang memiliki sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.

II. Pernikahan

Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti ‘Aliyah sebagai berikut: “Wahai Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu sudah cukup dewasa!” Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan kehormatan ?” Nabi menjawab,”Apa maksud Anda?” Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata,” Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?” Nafsiah berujar “Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia setuju.

Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (‘Amar bin Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan". Kemudian Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib. Pesta yang agung pun diselenggarakan, sang paman yang mulia ini menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan.

Tentang keponakannya, ia berkata demikian, “Keponakan saya Muhammad bin ‘Abdullah lebih utama daripada siapapun di kalangan Quraisy. Kendati tidak berharta, kekayaan adalah bayangan yang berlalu, tetapi asal usul dan silsilah adalah permanen". Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya, “Tak ada orang Quraisy yang membantah kelebihan Anda. Kami sangat ingin memegang tali kebangsawanan Anda.” Upacara pun dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua puluh ekor unta.

Sang bintang sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu lengkap kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang anak, dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad diutus menjadi Rosul. Ketika umur sang bintang mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Ka’bah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding ka’bah mengalami kerusakan.

Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa.

Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali ka’bah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut, “Dalam pembangunan kembali Ka’bah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini.”

Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.

Mari kita kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding ka’bah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari.

Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa.” (buku lain mencatat Bab as-salam). Semua menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru, “Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi wasit!” Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain.

Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah menjadi peristiwa berdarah. Tuhan, Sang Maha Konsep sudah membuat konsep tentang semua ini, tanda-tanda seorang bintang telah banyak ia tampakkan pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah.

Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tidak setitik cela apalagi kesalahan selama hidupnya, Sang Maha Konsep benar-benar telah mengonsepnya menjadi manusia ‘ilahi’. Al-Amin telah dikenal oleh masyarakat Mekah, sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak.

Sebelum pengutusannya menjadi Rosul, Muhammad selalu mengamati tanda kekuasaan Tuhan, dan mengkajinya secara mendalam, terutama mengamati keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya. Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.

Gunung Hira, puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah jam, gua ini adalah saksi atas peristiwa menyangkut “sahabat karib”-nya (Muhammad), gua ini menjadi saksi bisu tentang wahyu, dan seakan-akan ia ingin berkata,” disinilah dulu anak Hasyim itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya, kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah.“kata saksi bisu.

III. Diangkat Menjadi Rasul

Hira, tempat diturunkannya kalimat Tuhan Yang Maha Sakti, kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang. Al-Qur’an, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka. Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Tuhan semesta Alam, Sang Pemilik Konsep, untuk menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang berada di Gunung Hira’.

Al-Amin telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat dari Tuhannya. Ialah kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-qur’an sebagai berikut “Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Ayat ini dengan tegas menyatakan tentang program Nabi, dan menyatakan dalam istilah-istilah jelas bahwa fondasi agamanya diberikan dengan pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena. Muhammad, pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafa’at. Tidak satupun mahkluq yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad, sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada yang miskin.

Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah “Khodijah”. Jiwa agung Nabi disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya,”Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril”. Muhammad menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur, fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah ‘Ali.

Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya, selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata,” Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati.

Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat). “Lalu beliau menambahkan, “Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?”.

Ketika pidato Nabi mencapai poin ini, kebisuan total melanda pertemuan itu. ‘Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap,” Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.” Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali ‘Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata,” Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian.

Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia". Pemakluman khilafah (imamah) ‘Ali di hari-hari awal kenabian Muhammad memperlihatkan bahwa dua kedudukan ini berkaitan satu sama lain. Ketika Rosulullah diperkenalkan kepada masyarakat, khalifahnya juga ditunjuk dan diperkenalkan pada hari itu juga. Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa kenabian dan imamah merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran ‘Ali. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.

Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya. Banyak yang cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad, suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya.

Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,” Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya.

Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya…”. Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata,“ Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab,” Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka.” Abu Jahal bangkit sambil berkata, “ Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya.” Nabi menjawab,” Kalian harus mengakui keesaan Tuhan.”

Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata,” Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan dan menyembah kepada satu Allah saja?” Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan, “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,’Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata], ‘Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Mu’ith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut kepada Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi. Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan – pria serta beberapa orang tak terlindung.

Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.

Pasukan Syirik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Qur’an, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Qur’an Allah berfirman “Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan,’ Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syi’ib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syi’ib itu selama tiga tahun.

Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah sang bintang bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan. Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita, Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah Saww., dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga.

Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan ‘Am Al-Huzn (Tahun Duka cita).

Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya,” Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya.

Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robi’ul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, ‘Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan lanjut usia.

Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Orang-orang ini memang bodoh, mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Qur’an merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata, “Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik

Pembalas tipu daya. Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi, Ali, sekali lagi ‘Ali.

Kepadanya Nabi berkata,”Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib. ‘Ali menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.

IV. Hijrah

Kini tiba fajar. Semangat dan gairah besar tampak di kalangan musyrik itu. Mereka begitu yakin akan segera berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak ‘Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenag,”Apa yang terjadi ?” Mereka menjawab,”Kami mencari Muhammad. Di mana dia?” ’Ali berkata,” Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah.” Muhammad telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.

Nabi, tiba di Quba tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah Muhajirin dan Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan ‘Ali. Orang Quraisy mengetahui hijrahnya ‘Ali dan rombongannya – diantaranya ialah Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti ‘Asad dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib – karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan ‘Ali berkata “Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah, majulah! Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan berbalik pulang.” Ketika ‘Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan menempuh perjalanan Makah Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari bahwa, ‘Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke tempat ‘Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki ‘Ali membengkak, air mata Nabi menetes".

Penduduk Yastrib – yang kemudian berganti menjadi nama Madinah - menyambut kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Muhammad menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara. Pada perang Badar ‘al-washi (‘Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, ‘Ali mengingatkannya dalam kata-kata ‘Pedang saya yang saya gunakan untuk membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda (Hanzalah) masih ada pada saya. Pada perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan ‘Ali tidak pernah Absen, ‘Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan nilai pukulan ‘Ali pada perang Khandaq (parit) – disebut juga dengan Ahzab – kepada ‘Amar bin ‘Abdiwad itu,” Nilai pengorbanan itu melebihi segala perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi aib dan terhina".

V. Benteng Khaibar

Pada perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada yang mampu menghancurkan benteng, bahkan ‘Umar memuji keberanian pemimpin benteng, Marhab,yang luar biasa yang membuat Nabi dan para komandan Islam kecewa atas pernyataan ‘Umar ini.

Kebisuan orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata Nabi,” Dimanakah ‘Ali? “ Dikabarkan kepada beliau bahwa ‘Ali menderita sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,” Panggil dia.” ‘Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah Nabi.” Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai tak mampu berjalan. Nabi menggosokkan tangannya ke mata ‘Ali seraya mendoakannya. Mata ‘Ali langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi memerintahkan ‘Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci. Mengutip kisah pencabutan pintu benteng Khaibar itu dari ‘Ali melalui jalur khusus,” Saya mencabut pintu Khaibar dan menggunakannya sebagai perisai. Seusai pertempuran, saya menggunakannya sebagai jembatan pada parit yang digali kaum Yahudi.” Seseorang bertanya kepadanya,” Apakah Anda merasakan beratnya?” ‘Ali menjawab,” Saya merasakannya sama berat dengan perisai saya.” Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka’bah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.

VI. Fath Makkah

Tahun kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa besar pasukan musuh tersebut.

Di dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah, kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.

Makkah... Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi menyerukan teriakan Fir’aun-fir’aun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000 prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu kedatangan sahabatnya Gua itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi puluhan ribu pengikut dan pembelanya.

Nabi memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya pengampunan dan beliau berkata “... Pergilah, Anda semua adalah orang-orang yang dibebaskan!”

Kini, di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang –orang Quraisy berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Ba’iat.

Setelah penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut – semasa hidup Nabi - yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari cerai-berai “ Ayyuhan Nas, mau kemana kalian ?” Wahai orang-orang yang ikut bai’at al-Ridwan! Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai orang-orang yang berbaiat di bawah pohon...! orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik... Kami datang, kami datang...!”

Pasukan Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini – tidak bisa – tidak di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh tiga tahun, agar di bisa mengevaluasidan menelitinya kembali.

VII. Haji Wada

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqa’idah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak... seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,”Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu...” Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan – dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang – bergerak menuju satu arah. Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita yang membacakan hikayat-hikayat Fir’aun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran! Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah berkumpul Allah, Ibrahim, Ka’bah dan Muhammad. Dia juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah diantarkan kepada Maksud.

Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,”Tahukah kalian, bulan apa ini ?”

Mereka serentak menjawab,”Bulan Haram!” .....

...”Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya.....”

Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.

Muhammad telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan, Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan “Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

sumber dari www.fatimah.org

~ ku jejaki ahlul bayt kerana ku ingin menjadi sebahagian dari mereka _Ummu Husseini ~

Muhammad Rasulullah saw

Nama : Muhammad saw

Gelar : Al-Musthafa

Julukan : Abu Al-Qosim

Ayah : Abdullah bin Abdul Muththalib

lbu : Aminah binti Wahab

Tempat/Tgl. Lahir : Makkah, Senin, 12 Rabiul Awal

Hari/Tgl. Wafat : Senin, 28 Shofar Tahun 11 H.

Umur : 63 tahun Makam : Madinah

Jumlah Anak : 7 orang, 3 laki-laki dan 4 perempuan Anak laki-laki : Qosim, Abdullah dan lbrahim

Anak perempuan : Zainab, Ruqoiyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.



Riwayat Hidup Riwayat Hidup Nabi Muhammad saww di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya lahirlah seorang bayi dan keluarga yang sederhana di kota Makkah, yang kelak akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Ayahandanya bernama Abdullah putra Abdul Muththalib yang wafat sebelum beliau dilahirkan 7 bulan. Kehadiran bayi itu disambut oleh kakeknya Abdul Muththalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawanya ke kaki Ka'bah.

Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya. Dan dalam usia enam tahun beliau juga kehilangan ibudanya yang tercinta, Aminah binti Wahab. Setelah kematian kedua orang tuanya, datuk beliau Abdul Muthalib mengambil alih pendidikan nya. Menjelang wafatnya, Abdul Muththalib menunjuk putranya, Abu Thalib, sebagai wali dari Nabi Muhammad saww.

Beliau dikenal sebagai orang yang tampan, ramah, jujur dan suka menolong sesamanya. Dan pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang bangsawan nan rupawan, Khadijah binti Khuwailid. Pada usia 40 tahun, Muhammad saww mendapat wahyu dari Allah SWT dan diangkat sebagai Nabi untuk sekalian alam. Ketika itu beliau senantiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia.

Hingga datanglah Jibril a.s. dengan membawa berita gembira, lalu menyapa dan memerintahkan: "Bacalah dengan nama Tahanmu". Kemudian Rasululullah saww mulai berdakwah mengajak kerabatnya menuju kepada pengesaan Allah SWT yang meniupakan asal muasal dari segala yang wujud. Khadijah, istrinya merupakan orang pertama dari kalangan kaum wanita yang mempercayai kenabiaannya. Sedang laki-laki pertama yang mengikuti dan mengimani ajarannya adalah, Ali bin Abi Thalib a.s.

Selama tiga tahun Rasululullah saww berdakwah secara diam-diam di kalangan keluarganya dan setelah turun ayat 94 dari Surah Al-Hijr yang berbunyi: "Maka siarkanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan herpalinglah dari orang-orang musyrik", Rasulullah saww mulai berdakwah secara terang-terangan. Narnun, temyata kaum Qurays menolak ajakan suci dari Rasulullah saww, bahkan pamannya sendiri, Abu Lahab, termasuk salah seorang yang memusuhinya. Melihat permusuhan kaum Qurays pada beliau saww, pamannya, Abu Thalib, berkata: "Bagaimana rencanamu dalam menghadapi permusuhan ini, wahai kemenakanku? Akankah engkau menghentikan misimu?".

Dengan spontanitas Rasululllah saww menjawab: "Wahai pamanku! Andai matahari diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan misi ini, sungguh aku tidak akan menghentikannya, hingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa karenanya". Bagi Muhammad saww demi proyek Allah apapun boleh terjadi. Gangguan demi gangguan, penderitaan demi penderitaan. ejekan, fitnahan, cemoohan serta penganiayaan, telah mewarnai kehidupannya.

Kaum Qurays bukan hanya mengganggu Rasulullah saww akan tetapi para sahahatnya seperti, Amar serta kedua orang tuanya, Bilal dan yang lainnya juga tidak luput dan penyiksaan dan penganiyayaan. Melihat tingkah laku umatnya, khususnya kaum Qurays, Rasulullah saww sangat sedih sekali. Beliau saww yang dikenal sebagai pembawa rahmat, penuh belas kasih, terhiasi dengan kasih sayang, merasa sedih karena beliau tahu bahwa penolakan dan gangguan kaumnya itu lidak lain hanya akan mengakibatkan kesengsaraan dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat .

Kesedihan itu semakin bertambah ketika pada tahun kesepuluh dari kenabiaannya, istrinya, Khadijah, yang sangat menyanyanginya, yang membantu penyebaran misi Allah dengan harta dan jiwanya, yang selalu menghibur dan membahagiakan Rasulullah saww di saat beliau diganggu dan dianiaya oleh kaumnya, meninggal dunia. Tidak hanya itu, pamannya, Abu Thalib, yang memelihara sejak kecil hingga dewasa, yang selalu membela dengan jiwa dan raganya, juga meninggal dunia pada tahun yang sama. Setelah kepergian dua orang terkemuka, pembela Rasululah saww dalam segala keadaan, gangguan kaum kalir Quraiys semakin menjadi-jadi.

Dan pada tahun ke-13 dari kenabiannya, Rasulullah saww berhijrah ke kota Madinah, setelah kaum kafir Quraisy bersepakat untuk mcmbunuhnya. Di tempat hijrahnya itulah Rasulullah saww mulai mendapat sambutan, sehingga beliau mampu menyebarkan misi Allah dengan lebih leluasa dan mendirikan negara Islam di bawah pimpinan beliau sendiri. Negara Islam yang masih muda belia itu dipaksa untuk menghadapi lantangan dan serangan yang datang dan kaum kafir Qurays Mekkah dan dan kaum Yahudi yang ada disekitar Madinah.

Kemudian terjadilah peperangan-peperangan yang dipaksakan kepada negara Islam yang masih muda itu, oleh pihak-pihak yang tidak setuju terhadap misi suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad saww. Peperangan itu berawal dan perang Badar, Uhud, Khandak dan peperangan yang lainnya. Berkat bantuan Allah, dan kepandaian Rasulullah dalam mengatur siasat serta berkat keberanian para sahabatnya, khususnya keluarganya seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Ja'far bin Abi Thalib, Ali bin Abi Thalib, akhirnya negara Islam yang baru didirikan itu mampu menahan segala serangan dan berdiri dengan kokoh.

Setelah Rasulullah saww berhasil mendirikan negara Islam kemudian beliau memberikan pengajaran dan pengkaderan yang lebih kepada shabatnya. Bukti keberhasilan yang beliau ajarkan adalah banyaknya para sahabat yang menjadi cerdik pandai dan yang paling pandai di antara sahabatnya adalah sepupunya sendiri yang sekaligus suami dari putrinya yaitu Ali bin Abi Thalib a. s.

Karena banyaknya kegiatan yang beliau laksanakan, serta bertambahnya usia, menyebabkan kekuatan fisik beliau cepat menurun. Akhirnya, tepat pada tanggal 28 Shafar tahun 11 H dalam usianya 63 tahun, Nabi suci, Nabi pilihan yang sekaligus penutup segala nabi yang sejak awal kehidupannya senantiasa mengabdikan diri pada Allah SWT, harus meninggalkan dunia fana ini menuiu ke hadirat Allah SWT. Beliau telah tiada, namun namanya tetap terukir indah sepanjang masa.



sumber dari www.fatimah.org

~ ku jejaki ahlul bayt kerana ku ingin menjadi sebahagian dari mereka - Ummu Husseini~

Kelahiran Nabi Islam

Mata bersinar seterang cahaya matahari, kenyataan kata-kata yang keluar dari bibirnya lebih jelas dari sinar matahari, hatinya lebih segar dari bunga kebun Yatsrib dan Thaif, kebiasaan dan moralnya lebih baik dari pada cahaya bulan malam Hijaz, pikirannya lebih cepat dari angin yang kencang, lidahnya yang mempesona, hatinya yang penuh dengan cahay, putusan yang kokoh bagaikan pedang tajam dan kata-katanyayang menyenangkan keluar dari mulut. Dialah Muhammad putra Abdullah, Nabi yang berasal dari tanah Arab, Nabi penghancur berhala, berhala yang memisahkan seorang saudara dengan saudaranya yang lain, dia tidak hanya meluluhlantakkan berhala kayu dan batu tapi dia juga menghancurleburkan berhala kekayaan, kebiasaan buruk dan penyembahan pada roh nenek moyang.

Satu-satunya perkara yang pengecut Quraish inginkan adalah uang, ia harus ditransfer dari tangan pengembara Arab kekantong mereka. Sesuatu yang mereka anggap sangat berharga dalam kehidupannya adalah keuntungan atau laba, dalam mengusahakan mereka harus mengadakan perjalanan di padang pasir dengan mengendarai unta, mereka siap menghadapi kesulitan seberat apapun, setelah itu pulang ke kampung halamannya Mekkah, yang merupakan kota berhala, di mana uang adalah benda yang selalu mereka idam-idamkan.

Tiba-tiba mereka mendengar suara yang menggetarkan urat syaraf mereka, impian mereka hancur berantakan. Dunia memalingkan wajhnya sambil berkata : “Harga manusia tidak semurah yang kamu kira, keadaan pengembara Arab tidak seperti apa yang kamu pikirkan, inilah suara Muhammad”.

Orang-orang Arab pada zaman itu adalah orang yang sangat bangga dan egois, mereka menganggap orang-orang ajam (selain Arab) adalah orang yang rendah. Tidak hanya ini saja, mereka pun menilai bahwa orang Ajam adalah bukan manusia. Muhammad tidak menyetujui keyakinan mereka ini. Menanngapi sikap orang Arab ini, beliau mengatakan :”Tidak ada orang Arab yang lebih unggul dari bukan Arab kecuali kesalehannya. Tidak peduli suka atau tidak, umat manusia adalah bersaudara.”

Orang-orang mustadh’afin (tertindas), tuna wisma dan tak berdaya wajahnya terbakar oleh angin panas, masyarakat mengasingkannya dan menyesengsarakan kehidupannya. Di mata masyarakat, mereka lebih rendah dari pada butiran pasir dan kehidupannya tidak membuat orang l;ain iri hati. Sebenarnyamerekalah sahabat Nabi yang sejati, sebagaimana sahabat Nabi Isa dan orang-orang besar dunia lainnya. Demi merekalah Nabi Muhammad saaw berusaha mencegah kediktatoran, melarang perbudakan, membebaskan budak sahabatnya dan mendirikan baitul mal sehingga seluruh rakyat bisa mengambil manfaat tanpa diskriminasi. Beliau mengarahkan masyarakt untuk berusaha mencapai kesejahteraan umum. Dia menuntut orang Quraish yang merupakan kerabatnya untuk memperbaiki tindak-tanduknya, beramal saleh, serta mengerjakan sesuatu karena Allah yan telah memadukan ciptaan-Nya yan tersebar menjadi kesatuan yang lengkap.

Namun, kaum Quraish menghasut orang-orang jahiliah dan anak-anaknya sendiri untuk melempar dan mengejek beliau.

Kaum budak yang tertindas, tidak berumah dan tak mempunyai kemampuan apa-apa, di antaranya Bilal , muadzin Nabi, sangat gembira mendengar kata-kata Nabi, “Semua manusia diberi rizqi oleh Allah dan Allah sangat mencintai umat yang suka menolong makhluq-nya”. Ini adalah da’wah Muhammad.

Orang-orang yang memusuhi, melempari dan mengejeknya mendengar suara yang menggetarkan : “Bila kamu (Muhammad) berbuat kejam dan berhati keras niscaya mereka semua akan meninggalkanmu semenjak dulu. Ampunilah mereka, bermohonlah kepada Allah untuk menghapus dosa mereka dan bermusyawarahlah bersama mereka dalam masalah tertentu. Tetapi ketika kamu sudah mencapai suatu keputusan berimanlah kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang beriman. Inilah suara Muhammad. “

Kata-kata suci berikut ini terpatri dalam pikiran orang-orang yang berusaha berjalan menuju Allah demi kehidupan yang lebih baik, mereka siap sedia mendukung (Muhammad) dalam usaha menghancurkan penyembahan berhala dan perbuatan jahat, mereka takut kalau-kalau hak dan perbuatan baiknya tersia-sia di medan pertempuran.

Ingatlah! Jangan berkhianat, jangan menyia-nyikan amanat, jangan membunuh anak-anakmu baik laki-laki ataupun perempuan, jangan membunuh orang tua renta, jangan membunuh rahib di biara, jangan membakar pohon kurma, jangan menebang pohon dan meruntuhkan bangunan. Ini adalah seruan Muhammad.

Orang-orang Arab mendengar seruan yang menyejukkan ini dan menyebarkannya ke empat penjuru dunia. Mereka mencelup pejabat dan raja perkasa dengan permohonan ini, menjadikan persahabatan sesama umat manusia dan menguntaikannya dalan satu keyakinan, serta menciptakan hubungan antara manusia dan Tuhannya.

Naungan Muhammad tersebar sedemikian rupa sehingga seluruh isi dunia menjemput kedatangannya, negeri-negeri dari timur sampai barat mulai menghasilkan buah kebaikan, pengetahuan, kedamaian, dan persahabatan. Nabi Islam membentangkan tangan dan menebarkan benih-benih persahabatan dan persaudaraaan ke seluruh dunia. Olah karena itu, pengikut Muhammad ada di mana-mana. Satu di antara mereka mungkin ada dari Paksitan dan ada yang lainnya dari Spanyol, tapi walaupun demikian mereka menduduki derajat yang sama. Nabi tetap menghormati dan menghargai orang-orang Timur yang sampai saat ini masih memegang teguh mahkota kerajaan.

Panggilan Muhammad adalah panggilan persaudaraan. Ia menghentikan tangan para penguasa yang berusaha merenggut harta warganya dan menyamakan hak azasi manusia. Dalam agama yang dia anut, tidak ada diskriminasi antara orang kecil, pejabat, warga negara, orang Arab dan orang ajam karena mereka semua adalah hamba Allah, hanya Allah-lah yang memberi rizqi kepada mereka.

Suara mulia ini mampu memerdekakan perempuan dari penindasan laki-laki, membebaskan para pekerja dari ketidakadilan pemilik modal (kapitalis) dan melepaskan budak dari ketaatan yang berlebihan kepada tuannya. Islam menentang Plato dan para filosof lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina, mereka membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas, sebaliknya Nabi Islam mendorong manusia berpartisipasi dalam urusan pemerintah, beliau mengharamkan riba dan eksploitasi manusia oleh yang lainnya.

Makhluk yang murah hati ini adalah pribadi agung yang menaburkan berkah pada umat manusia, yang melenyapkan kesesatan, karenanyalah nilai kehidupan menjadi dan mulia, kebebasan menjadi perkara yang besar, serta realitas atau kenyataan menjadi terangkat, dialah Muhammad saaw.

Nabi Muhammad itu menjadi suari tauladan, dasar bagi hubungan sosial kemasyarakatan, alasan bagi orang yang menapaki jalannya, kebenaran yang menjelaskan mana yang baik dan mana yang salah. Tidak pernah kita melihat manusia yang tercerahkan ini di muka bumi, yang diriya sendiri menderita dan mengalami kesakitan tetapi memberi berkah dan membahagiakan orang lain tersebut. Tidak pernah pula kita melihat penguasa yang tak pernah makan kenyang bila rakyat sekelilingnya kelaparan, tidak mau mengenakan pakaian yang bagus bila yang lain berpakaian jelek, tidak mau mengumpulkan kekayaan karena banyak orang miskin di sekitarnya. Demikianlah kajian historis singkat yang dikemukakan oleh seorang penulis Barat, bernama George Jordac. Memang, Nabi mulia ini merupakan satu-satunya manusia terbesar yang telah mempengaruhi sejarah peradaban manusia sepanjang zamannya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

sumber dari www.fatimah.org


~ku jejaki ahlul bayt kerana ku ingin menjadi sebahagian dari mereka - Ummu Husseini~

Abu Thalib Seorang Mukmin

Segala Puja dan Puji bagi Allah, sebanyak tetesan air hujan, sebanyak butiran biji-bijian, sebanyak makhluk-Nya dilangit, dibumi dan diantara keduanya.

Segala Puja dan Puji yang banyak dan tak berkesudahan untuk Allah, meskipun puja segala pemuji selalu kurang dari sewajarnya.

Segala Puja dan Puji untuk Allah seagung pujian-Nya terhadap diri-Nya.

Shalawat dan Salam yang tiada pernah terputus dan tiada pernah terhenti terus-menerus, sambung-menyambung sampai ke akhir zaman untuk Nabi yang dicintai dan dikasihi oleh ruh, jiwa dan jasad kami, Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, juga untuk keluarganya yang telah disucikan dari segala noda dan nista, serta para sahabat yang berjihad bersamanya dan setia padanya sepanjang hayatnya.

Dalam berbagai kesempatan alfagir hamba Allah penulis risalah ini sering mendengar dalam khutbah-khutbah, diskusi-diskusi, maupun dialog-dialog bahwa Abu Thalib paman tercinta Rasulullah SAAW dikatakan kafir. Beberapa rekan sering bertanya tentang masalah ini, akhirnya alfagir harapkan risalah ini sebagai jawaban atas semuanya itu, sebaga pembelaan terhadap Abu Thalib dan terhadap Nabi SAAW, semoga beliau SAAW meridhainya Amin.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya (mengutuknya) didunia dan diakhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (Q.S. 33:57)”.

“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih(Q.S. 9:61)”

Diriwayatkan dari Al-Thabrani dan AL- Thabrani dan Al-Baihaqi, bahwa anak permpuan Abu Lahab (saudara sepupu Nabi saaw ) yang bernama Subai’ah yang telah masuk Islam datang ke Madinah sebagai salah seorang Muhajirin, seseorang berkata kepadanya : “Tidak cukup hijrahmu ini kesini, sedangkan kamu anak perempuan kayu bakar neraka” (menunjuk surat Allahab). Maka ia sakait mendengar kat-kat tersebut dan melaporkannya pada Rasulullah saaw. Demi mendengar laporan semacam itu beliau saaw jadi murka, kemudian beliau naik mimbar dan bersabda :

“Apa urusan suatu kaum menyakitiku, baik dalam nasabku (silsilahku) maupun sanak kerabatku. Barang siapa menyakiti nasabku serta sanak kerabatku, maka telah menyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku, maka dia menyakiti Allah SWT.

Sa’ad bin Manshur dalam kitab Sunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang Firman Allah SWT (Q.S; 42,23) : “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meinta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (Ahlul Bait)”.

Ia berkatyang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah saaw, (Hadits ini disebutkan juga oleh Al-Muhib Al-Thabari dalam Dzkhair Al-Uqbah ha.9 Ia mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Sirri, dikutib pula oleh Al-Imam Al-Hafid Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Suyuthi dalam kitab Ihyaul Maiyit Bifadhailil Ahlil Bait hadits nomer 1 dan dalam kitab tafsir Al-Dur Al-Mantsur ketika menafsirkan ayat Al-Mawaddah :42,43)

Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya Juz 4 hal.210 hadits no.177 meriwayatkan:

Abbas paman Nabi SAAW masuk menemui rasulullah saaw, lalu berkata: “Wahai rasulullah, sesungguhnya kita (bani hasyim) keluar dan melihat orang-orang quraisy berbincang-bincang lalu jika mereka melihat kita mereka diam”. Mendengar hal itu rasulullah saaw marah dan meneteskan airmata kemudian bersabda : “Demi Allah tiada masuk keimanan ke hati seseorang sehingga mereka mencintai kalian (keluarga nabi saaw) karena Allah dan demi hubungan keluarga denganku”. (hadits serupa diriwayatkan pula oleh Al-Turmudzi, Al-Suyuthi, Al-Muttaqi Al-Hindi, Al-Nasa’i, Al-Hakim dan Al-Tabrizi).

Ibnu Adi dalam kitab Al-Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata bahwa Rasulullah saaw bersabda: “Barang siapa yang membenci kami Ahlul Bayt (Nabi dan keluarganya) maka ia adalah munafiq”. (At-Athabrani dalam Dzakair, Ahmad dalam Al-Manaqib, Al-Syuthi dalam Al-Dur Al-Mantsur dan dalam Ihyaul Mayyit).

Al-Thabrani dalam kitab Al-Awsath dari Ibnu Umar, ia berkata: Akhir ucapan rasulullah saaw sebelum wafat adalah: “Perlakukan aku sepeninggalku dengan bersikap baik kepada Ahlul Baitku.” (Ibnu Hajar dalam Al-Shawaiq). Al-Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari Ali bersabda : “Syafa’at (pertolongan diakhirat kelak) ku (hanya) teruntuk orang yang mencintai Ahlul Baytku. (Imam Jalaluddin Al-Syuthi dalam Ihyaul Maiyit) .

Al-Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id ia berkata bahwa Rasulullah saaw bersabda :” Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang menggaguku dengan menggangu itrahku”. (Al-Suyuthi dalam Ihyaul Maiyit, dikutib juga oleh Al-Manawi dalam Faidh Al-Qadir, dan juga oleh Abu Nu’aim).

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam Ali a.s. bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang menyakiti seujung rambut dariku maka ia telahmenyakitiku dan barang siapa yang menyakitiku berarti ia telah menyakiti Allah SWT”. Dengan demikian jelaslah bahwa siapa yang menyakiti Abu Thalib berarti menyakiti Rasulullah beserta cucu-cucu beliau pada setiap masa. Rasulullah bersabda :” Janganlah kalian menyakiti orang yang masih hidup dengan mencela orang yang telah mati”.

Sebenarnya pandangan tentang kafirnya Abu Thalib adalah hasil rekayasa politik Bany Umaiyah di bawah kendali Abu Sufyan seseorang yang memusuhi Nabi saaw sepanjang hidupnya, memeluk Islam karena terpaksa dalam pembebasan Makkah, kemudian dilanjutkan oleh putranya Muawiyah, seorang yang diberi gelar oleh Nabi saaw sebagai kelompok angkara murka, yang neracuni cucu Nabi saaw, Imam Hasan ibn Ali a.s. Dalam kitab Wafiyat Al-A’yan Ibnu Khalliqan menuturkan cerit Imam Nasa-i (penyusun kitab hadits sunna Al-Nasa-i), bahwasanya sewaktu Nasa-i memasuki kota Damaskus, ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Muawiyah, kata Nasa-i: “ Aku tidak menemukan keutamaan Muawiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya”. Selanjutnya dilanjutkan oleh Yazid anak Muawiyah si pembunuh Husein ibn Ali cucu Nabi Muhammad saaw di padang Karbala bersama 72 keluarga dan sahabatnya. Muawiyah yang sebagian Ulama dikatagorikan sebagai sahabat Nabi saaw , telah memerintahkan pelaknatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib hampir 70.000 mimbar umat Islam dan dilanjutkan oleh anak cucu-cucuBany Umaiyah selam 90 tahun sampai masa Umar bin Abdul Azizi. Ibnu Abil Hadid menyebutkan Muawiyah membentuk sebuah lembaga yan bertugas mencetak hadits-hadits palsu dalam berbagai segi terutama yang menyangkut keluarga Nabi saaw, lembaga tersebut beranggotakan beberapa orang sahabat dan Tabi’in (sahabtnya sahabat) diantaranya “Amr ibn Al-ash, Mughirah ibn Syu’bah dan Urwah ibn Zubair).

Sebagai contoh Ibnu Abil Hadid menebutkan hadits produksi lembaga tersebut :

“Diriwayatkan oleh Al-Zuhri bahwa : Urwah ibn Zubair menyampaikan sebuah hadits dari Aisyah bibinya ia berkata : Ketika aku bersama Nabi saaw, maka datanglah Abbas (paman Nabi saaw) dan Ali bin Abi Thalib dan Nabi saaw berkata padaku :”Wahai Aisyah kedua orang itu akan mati tidak atas dasar agamaku (kafir)”.

Inil adalah kebohongan besar tak mungkin Rasul saaw bersabda seperti itu yang benar Rasul saaw bersabda seprti yang termaktub dalam kitab : Ahlul Bayt wa Huququhum hal.123, disitu diterangkan: Dari Jami’ ibn Umar seorang wanita bertanya pada Aisyah tentang Imam Ali, lalu Aisyah menjawab : “Anda bertanya kepadaku tentang seorang yang demi Allah SWT, aku sendiri belum pernah mengetahui ada orang yang paling dicintai Rasulullah saaw selin Ali,dan di bumi ini tidak ada wanita yang paling dicintai putri Nabi saaw, yakni ( Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s istri Imam Ali a.s). Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, Al-Suyuthi dalam kitab Al-Jami Ash-Shaghir dan juga Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dari Ibnu Abbas, Rasulullah saaw bersabda :” Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, Maka barangsiapa ingin mendapat Ilmu, hendaknya ia mendatangi pintunya”. Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shadiq Al-Maghribi berdasarkan hadits ini telah membuat kitab khusus yang diberi judul :”Fathul Malik al’Aliy bishihati hadits Babul Madinatil Ilmi Ali” yang membuktikan ke shahihan hadits tersebut.

Tidak mungkin kami menyebutkan hadits-hadits keutamaan Imam Ali satu persatu karena jumlahnya sangat banyak , cukuplah yang dikatakan Imam Ahmad (pendiri mazhab sunni Hambali) seperti yang diriwayatkan oleh putranya Abdullah ibn Ahmad sbb: “Tidak ada seorang pun diantara para sahabat yang memiliki Fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanad yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib”. Bany Umaiyah tidak cukup dengan menciptakan hadits-hadits palsu bahkan mengadakan program kekerasan bagi siap yang berani mengungkap hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan keluarga Nabi saaw. Mereka meracuni dan mempengaruhi pikiran umat Islam bahwa orang yang mengungkap keutamaan keluarga Nabi saaw adalah para pengacau, musuh Islam dan mereka adalah orang-orang zindiq.

Maka tidak sedikit Ulama’ Islam yang menjadi korban karena mereka berani secara tegas menyebarkan hadits-hadits tersebut. Dimana Bany Umaiyah kemudian dimasa Bany Abbasiyah, Keluarga Nabi saaw dan anak, cucunya terus menerus menjadi korban intimidasi yang tidak henti-hentinya, mengalami pengejaran, pembunuhan, seperti pembantaian Karbala, pembantaian Imam Ali Zainal Abidin, Annafsuzzakia , peracuni Imam Al-Baqir, Ash-shodiq, Al-Khadzim, Ar-Ridha dll, sampai seorang sejarawan terkenal Abul Faraj yang diberi judul “Maqatilut – Thalabiyin”.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa mereka berlaku demikian itu dan apa yang mendasarinya?, jawabannya tiada lain hanyalah kaena dengki dan irihati terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah kepada keluarga Nabi saaw. “Ataukah mereka dengki kepada (sebagian ) manusia (=Muhammad dan keluarganya) lantaran karunia-karunia yang Allah SWT, telah limpahkan kepadanya...?” (QS; 4,54) Al-Hafid Ibnu Hajar dalam kitabnya As-Sawaiq meriwayatkan dari Ibnu Mughazili Asy-Syafi’i bahwasanya Imam Muhammad Al-Bagir berkata: “Kamilah Ahlul Bayt adalah orang yang kepada mereka sebagian manusia menunjukkan rasa iri dan dengki”.

Para pengutbah dan penceramah tentunya telah mengetahui semua hadits-hadits yang mengkafirkan Abu Thalib yang jumlahnya kurang lebih 9 hadits, oleh karena itu hamba AllahSWT tidak akan menyebutkan lagi disini. Dengan menggunakan Ilmu hadits dan memeriksa Rijal (orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut. Tidak mungkin merinci komentar para ahli Jarh (kritik hadits) disini, sebagai contoh ; salah seorang perawi hadits dari kalangan sahabat bernama Abi Hurairah, disepakati oleh para ahli sejarah bahwa dia masuk Islam pada perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah, sedangkan Abu Thalib meninggal satu dua tahun sebelum Hijrah. Apakah dia berhadits ?.

Anehnya beberapa periwayat hadits tersebut menyebutkan beberapa Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunya ayat dalam Al-Quran) dihubungkan untuk mengkafirkan Abu Thalib, sebagai contoh; Surah Al-Tawbah 113 dan Al-Qashash 56, surah Al-Tawbah ayat 113 menurut para ahli tafsir termaasuk surah yang terakhir turun di Madinah, sedang Al-Qashash ayat;56 turun pada waktu perang Uhud (sesudah Hijrah), jadi baik antara kedua surah itu ada jarak yang bertahun-tahun juga antara kedua surah tersebut dengan kewafatan Abu Thalib ada jarak yang bertahun-tahun pula. Sekarang kita telah menolak hadits yang mengkafirkan Abu Thalib dan akan mengetengahkan hadits-hadits yang menyebut beliau (semoga Allah meridhainya) sebagai seorang muslim, namun sebelumnya akan kami ketengahkan terlebih dahulu siapakah Abu Thalib itu?

Beliau Abu Thalib nama aslinya adalah Abdu Manaf, sedang nama Abu Thalib adalah nama Kauniyah (panggilan) yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib, Abu berarti Bapak. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh Rasulullah saaw, dia membela Nabi saaw dengan jiwa raganya. Ketika Nabi saaw berdakwah dan mendapat rintangan Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Ketika Nabi saaw dan pengikutnya di baikot di sebuah lembah, Abu Thalib mendampingi Nabi saaw dengan setia. Ketika dia melihat Ali shalat di belakang Rasulullah saaw. Ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi saaw dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.

Beliau telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi saaw dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi saaw adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Beliau mengetahu akan kenaibian Muhammad saaw jauh sebelum Nabi saaw diutus oleh Allah SWT, sebagai Rasul di atas dunia ini. Dia menyebutkan hal tersebut ketika berpidato dalam pernikahan Nabi saaw dengan Sayyidah Khadijah a.s. Abu Thalib berkata : “ Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sekalian sebagian anak cucu Ibrohim dan Ismail, menjadikan kita sekalian berpangkal dari Bany Ma’ad dan Mudhar menjadikan kita penanggung jawab rumah-Nya (ka’bah) sebagai tempat haji serta tanah haram yang permai, menjadikan kita semua sebagai pemimpin-pemimpin manusia. Kemudian ketahuilah bahwa kemponakan saya ini adalah Muhammad ibn Abdullah yang tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki manapun kecuali ia lebih tinggi kemuliaannya, keutamaan dan akalnya. Dia (Muhammad ), demi Allah setelah ini akan datang dengan sesuatu kabar besar dan akan mengahadapi tantangan yang berat”.

Kata-kata beliau ini, adalah hasil kesimpulan apa yang beliau lihat tentang pribadi Nabi saaw sejak kecil, atau sebuah ilham dan dari kaca mata sufi adalah sesuatu yang diperoleh dari Ilmu Mukasyafah atau beliau seorang Kasyaf.

Pada saat Abu Thalib berekspidisi ke Syiria (Syam), pada waktu itu Nabi saaw masih berusia 9 tahun dan diajak oleh Abu Thalib, ketika itu bertemu dengan seorang rahib Nasrani bernama Buhairah yang mengetahui tanda-tanda kenabian yang terdapat pada Nabi saaw dan memberitahukan pada Abu Thalib kemudian menyuruhnya membawa pulang kembali ke Mekkah karena takut akan gangguan orang Yahudi.Maka Abu Thalib tanpa melihat resiko perdagangannya dengan serta merta membawa Nabi saaw pulang ke Mekkah.

Jika Abu Thalib hendak makan bersama keluarganya, beliau selalu berkata: Tetaplah kalian menunggu hingga Muhammad datang, kemudian Nabi saaw datang serta makan bersama mereka hingga mereka menjadi kenyang, berbeda seandainya mereka makan tanpa keikut sertaan Nabi saaw, biasa hidangannya adlah susu, maka Nabi saaw dipersilahkan lebih dahulu, baru bergiliran mereka. Abu Thalib berkata kepada Nabi saaw: “Sesungguhnya Engkau adalah orang yang di berkati Tuhan”.

Setiap Nabi akan tidur Abu Thalib membentangkan selimutnya dimana beliau saaw biasa tidur. Beberapa saat setelah beliau saaw tertidur, dia membangunkan beliau saaw lagi dan kemudian memerintahkan sebagian ank-anaknya untuk tidur ditempat Rasulullah saaw tidur, sementara Rasulullah dibentangkan selimut ditempat lain agar Nabi saaw tidur disana. Semua ini dilakukkan oleh Abu Thalib demi keselamatan Nabi saaw.

Ya Allah, Engkaulah yang dituduh oleh sebagian umat Nabi-Mu , tidak mau memberi hidayah Islam kepada seseorang yang mencintai Nabi saaw yang tiada melebihinya dan Nabi saaw mencintainya dengan teramat sangat.

Ya Allah, sungguh prasangkaku baik kepada-Mu, tak mungkin engkau tidak memberi iman kepadanya. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Engkau terjauh dari perasangka buruk. Ya Allah, apakah mungkin umat Nabi-Mu akan menerima Syafa’at dari padanya, sedang lidah-lidah mereka tiada kering dari mengkafirkan paman kesayangannya. Ya Allah Engkau adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Engkau akan mengukum siapa saja yang menyakiti Nabi-Mu dan keluarganya. Dalam salah satu sya’irnya Imam Syafi’i berkata : Wahai Keluarga Rasulullah

Kecintaan kepadamu

Allah wajibkan atas kami

Dalam Al-Quran yang diturunkan

Cukuplah tanda kebesaranmu

Tidak sah shalat tanpa shalawat padamu

(maksudnya : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ali Muahammad)

Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dalam sya’irnya:

Kecintaan Yahudi kepada keluarga Musa nyata

Dan bantuan mereka kepada keturunan saudaranya jelas

Pemimpin mereka dari keturunan Harun lebih utama

Kepadanya mereka mengikut dan bagi setiap kaum ada penuntun

Begitu juga Nasrani sangat memuliakan dengan penuh cinta

Kepada Al-Masih dengan menuju perbuatan kebajikan

Namun jika seorang muslim membantu keluaga Ahmad (Muhammad)

Maka mereka bunuh dan mereka sebut kafir

Inilah penyakit yang sulit disembuhkan, yang telah menyesatkan akal

Orang-oramg kota dan orang-orang desa, mereka tidak menjaga

Hak Muhammad dalam urusan keluarganya dan Allah Maha Menyaksikan.

Dalam Sya’irnya Imam Zamakhsyari bertutur:

Beruntung anjing karena mencintai Ashabul kahfi

Mana mungkin aku celaka karena mencintai keluarga Nabi saaw

Abu Hasyim Isma’il bin Muhammad Al-Humairi dalam salah satu sya’i permohonan syafa’at pada nabi saaw:

Salam sejahtera kepada keluarga dan kerabat Rasul

Ketika burung-burung merpati beterbangan

Bukankah mereka itu kumpulan bintang gemerlapan dilangit

Petunjuk-petunjuk agung tak diragukan

Dengan mereka itulah aku disurga, aku bercengkrama

Mereka itu adalah lima tetanggaku, Salam sejahtera.

Kini tibalah saatnya untuk kami ketengahkan hadits-hadits tentang Mukminnya Abu Thalib, namun akan kami kutip sebagian saja.

Dari Ibnu Adi yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik, ia berkata; “Pada suatu saat Abu Thalib sakit dan Rasulullah menjenguknya, maka ia berkata; “Wahai anak sudaraku, berdo’alah kamu kepada Allah agar ia berkenan menyembuhkan sakitku ini”, dan Rasulullah pun berdo’a: Ya Allah, ...sembuhkanlah paman hamba”, maka seketika itu juga dia berdiri dan sembuh seakan dia lepas dari belenggu”. Apakah mungkin Rasulullah berdoa untuk orang yang kafir padanya ?, apakah mungkin orang kafir minta do’a kepada Rasulullah , apakah mungkin orang yang menyaksikan mukjizat yang demikian lantas tidak mau beriman ?. Perkaranya kembali pada logika orang yang waras.

“Diriwayatkan oleh Bukhari dari Aqil bin Abu Thalib, diterangkan bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Abu Thalib:”Sesungguhnya anak saudramu ini telah menyakiti kami”, maka Abu Thalib berkata kepada Nabi Muhammad saaw :”Sesungguhnya mereka Bany pamanmu,menuduh bahwa kamu menyakiti mereka”. Beliau menjawab : “ Jika seandainya kalian (wahai kaum Quraisy) meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku untuk aku tinggalkan perkara ini, sehingga Allah menampakkannya atau aku hancur karenanya niscaya aku tidak akan meninggalkannya sama sekali”. Kemudian kedua mata beliau mencucurkan air mata karena menangis, maka berkatalah Abu Thalib kepada beliau saaw:”Hai anak saudaraku, katakalah apa yang kamu suka, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu kepada mereka selamanya”. Dia juga berkata kepada orang-orang Quraisy, “Demi Allah, anak saudaraku tidak bohong sama sekali”.

Kami bertanya apakah kata-kata dan pembelaan demikian ini dapat dilakukan oleh orang kafir, yang agamanya sendiri dicela habis-habisan oleh Nabi saaw ? Kalau yang demikian ini dikatakan tidak beriman, lalu yang bagaimana yang beriman itu ? apkah yang KTP ?

Dari Al-Khatib Al-Baghdadi dari Imam Ja’far Ash-Shadiq yang sanadnya sampai pada Imam Ali, berkata aku mendengar Abu Thalib berkata: Telah bersabda kepadaku, dan dia demi Allah adalah orang yang paling jujur, Abu Thalib berkata selanjutnya: “Aku bertanya kepada Muhammad, Hai Muhammad, dengan apa kamu diutus (Allah) ?” beliau saaw menjawab : “Dengan silaturrahmi, mendirikan shalat, serta mengeluarkan zakat”.

Al-Khatib Al-Baghdadi adalah seorang ulama besar dan beliau menerima hadits yang diriwayatkan oleh Abi Thalib, jika Abu Thalib bukan mukmin maka tentu haditsnya tidak akan diterima, demikian juga Imam Ali dan Imam Ash-Shadiq dll. Penelaahan lebih jauh tentang hadis ini kita akan menemukan bahwa beliau mukmin.

Dari Al-Khitab, yang bersambung sanadnya, pada Abi Rafik maula ummu Hanik binti Abi Thalib bahwasannya ia mendengar Abu Thalib berkata :”Telah berbicara kepadaku Muhammad anak saudaraku, bahwanya Allah memerintahkannya agar menyambung tali silaturrahmi, menyembah Allah serta tidak boleh menyembah seseorang selain-Nya”.(tidak menyekutukan-Nya), kemudian Abu Thalib berkata: “Dan Aku Abu Thalib berkata pula: “Aku mendengar anak saudaraku berkata:”Bersyukurlah, tentu kau akan dilimpahi rizki dan janganlah kufur, niscaya kau akan disiksa”. Apakah ada tanda-tanda beliau orang kafir dalam hadits di atas?, wahai saudaraku anda dikaruniai kemauan berpikir pergunakanlah, jangan seperti domba yang digiring oleh gembala. 14 Abad umat Muhammad telah ditipu oleh rekayasa Bany Umaiyah, kapan mereka mampu mengakhirinya. Ketahuilah lebih 13 abad yang lampau Bany Umaiyah telah ditelan perut bumi akibat kedengkiannya kepada keluarga Nabi, namun fitrahnya tidak habis-habisnya.

Dari Ibnu Sa’ad Al-Khatib dan Ibnu Asakir dari Amru ibn Sa’id, bahwasanya Abu Thalib berkata : “Suatu saat berada dalam perjalanan bersama anak saudaraku (Muhammad), kemudian aku merasa haus dan aku beritahukan kepadnya serta ketika itu aku tidka melihat sesuatu bersamanya, Abu Thalib selanjutnya berkata, kemudian dia (Muhammad) membengkokkan pangkal pahanya dan menginjakkan tumitnya diatas bumi, maka tiba-tiba memancarlah air dan ia berkata kepadku:”Minumlah wahai pamanku !”, maka aku kemudian minum”.

Ini adalah mukjizat Nabi saaw dan disaksikan oleh Abu Thalib, yang meminum air mukjizat, adakah orang kafir dapat meminum air Alkautsar ?. Berkata Al-Imam Al-Arifbillah Al-Alamah Assayyid Muhammad ibn Rasul Al-Barzanji:”Jika Abu Thalib tidak bertauhid kepada Allah, maka Allah tidak akan memberikannya rizki dengan air yang memancar untuk Nabi saaw yang air tersebut lebih utama dengan air Al-Kautsar serta lebih mulia dari air zamzam.

Dari Ibnu Sa’id yang diriwayatkan dari Abdillah Ibn Shaghir Al-Udzri bahwasanya Abu Thalib ketika menjelang ajalnya dia memanggil Bany Abdul Mutthalib seraya berkata:”Tidak pernah akan putus-putusnya kalian dengan kebaikan yang kalian dengar dari Muhammad dan kalian mengikuti perintahnya, maka dari itu ikutilah kalian, serta bantulah dia tentu kalian akan mendapat petunjuk”. Jauh sekali anggapan mereka, dia tahu bahwa sesungguhnya petunjuk itu di dalam mengikuti beliau saaw. Dia menyuruh orang lain agar mengikutinya, apakah mungkin dia sendiri menginggalkannya?. Sekali lagi hanya logika yang waras yang bisa menentukannya dan ma’af bukan domba sang gembala.

Dari Al-Hafidz (si penghafal lebih dari 100.000 hadits) Ibn Hajar dari Ali Ibn Abi Thalib a.s bahwasanya ketika Ali memeluk Islam, Abu Thalib berkata kepadanya:”Teteplah kau bersama anak pamanmu !”. Pertanyaan apa yang bisa ditanyakan terhadap seorang ayah yang menyuruh anaknya memluk Islam, sedangkan dia sendirian dikatakn bukan Islam, adakah hal itu masuk akal ?.

Dari Al-Hafidz Ibn Hajar yang riwayatnya sampai pada Imran bin Husein, bahwasanya Abu Thalib : bershalatlah kamu bersama anak pamanmu, maka dia Ja’far melaksanakan shalat bersama Nabi Muahmmad saaw, seperti juga ia melksanakannya bersama Ali bin Abu Thalib. Sekiranya Abu Thalib tak percaya akan agama Muhammad, tentu dia tidak akan rela kedua putranya shalat bersama Nabi Muhammad saaw, sebab permusuhan yang timbul karena seorang penyair berkata:”Tiap permusuhan bisa diharapkan berakhirnya, kecuali permusuhan dengan yang lain dalam masalah agama”.

Dari Al-Hafidz Abu Nu’aim yang meriwayatkan sampai kepada Ibnu Abbas, bahwasannya ia berkata : “Abu Thalib adalah orang yang paling mencintai Nabi saaw, dengan kecintaan yang amat sangat (Hubban Syadidan) tidak pernah ia mencintai anak-anaknya melebihi kecintaannya kepada Nabi saaw. Oleh karena itu dia tidak tidur kecuali bersamanya (Rasulullah saaw).

Diriwayatkan dalam kitab Asna Al-Matalib fi najati Abu Thalib oleh Assayid Al-Almah Al-Arifbillah, Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan Mufti mazhab Syafi’i di Mekkah pada zamannya:”Sekarang orang-orang Quraisy dapat menyakitiku dengan sesuatu yang takpernah terjadi selama Abu Thalib hidup”. Tidaklah orang-orang Quraisy memperoleh sesuatu yang aku tidak senangi (menyakitiku) hingga Abu Thalib wafat”. Dan setelah beliau melihat orang-orang Quraisy berlomba-lomba untuk menyakitinya, beliau bersabda:” Hai pamanku, alangkah cepatnya apayang aku peroleh setelah engkau wafat”. Ketika Fatimah binti Asad (isteri Abi Thalib) wafat, Nabi saaw menyembahyangkannya, turun sendiri ke liang lahat, menyelimuti dengan baju beliau dan berbaring sejenak disamping jenazahnya, beberapa sahabat bertanya keheranan, maka Nabi saaw menjawab:” Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia (Fatimah binti Asad).

Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah istri Nabi saaw, wafat dalam tahun yang sama, oleh karena itu tahun tersebut oleh Nabi saaw disebut Aamul Huzn dalam tahun dukacita. Jika Abu Thalib seorang kafir patutlah kematiannya disedihkan. Dan apakah patut Nabi bercinta mesrah dengan orang kafir, dengan berpandangan bahwa Abu Thalib kafir sama dengan menuduh Allah, menyerahkan pemeliharaan Nabi saaw, pada seorang kafir dan membiarkan berhubungan cinta-mencintai dan kasih-mengasihi yang teramat sangat padahal dalam Al-Quran disebutkan:”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka(QS;48,29). Dan diayat yang lain Allah berfirman: “Kamu tidak akan mendpati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akherat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun orang itu bapak-bapak, atu anak-anak saudara-saudara atupun keluarga mereka”.(QS;58,29)

Seandainya kami tidak khawatir anda menjadi jemu, maka akan kami sebutkan hadits yang lainnya, kini untuk memperkuat argumentasi di atas akan kami ketengahkan disini sya’ir-sya’ir Abu Thalin:

Saya benar-benar tahu bahwa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini.

Di sya’ir yang lain beliau berkata: “Adakah kalian tidak tahu, bahwa kami telah mengikuti diri

Muahmmadsebagai Rasul seperti Musa yang telah dijelaskan pada kitab-kitab”.

Simaklah sya’ir beliau ini, bahwa beliau juga beriman pad Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Musa a.s, dan ketika Rahib Buhairah berkata padanya beliau juga menimani akan kenabian Isa a.s , sungguh Abu Thalib adalah orang ilmuan yang ahli kitab-kitab sebelumnya.

Dalam sya’ir yang lain: “Dan sesungguhnya kasih sayang dari seluruh hamba datang kepadanya (Muhammad). Dan tiada kebaikan dengan kasih sayang lebih dari apa yang telah Allah SWT khususkan kepadanya”.

“Demi Tuhan rumah (Ka’bah) ini, tidak kami akan serahkan Ahmad (Muhammad)kepada bencana dari terkaman masa dan malapetaka”.

“Mereka (kaum Quraisy) mencemarkan namanya untuk melemahkannya. Maka pemilik Arsy (Allah) adalah dipuji (Mahmud) sedangkan dia terpuji (Muhammad)”.

“Demi Allah, mereka tidak akan sampai kepadamu dengan kekuatannya. Hingga Aku terbaring diatas tanah”. Maka sampaikanlah urusanmu secara terang-terangan apa yang telah diperintahkan tanpa mengindahkan mereka. Dan berilah kabar gembira sehingga menyenangkan dirimu. Dan engkau mengajakku dan aku tahu bahwa engkau adalah jujur dan benar. Engkau benar dan aku mempercayai. Aku tahu bahwa agama Muhammad adalah paling baiknya agama di dunia ini”. Dan sebilah pedng meminta siraman air hujan dengan wajahnya, terhadap pertolongan anak yatim sebagai pencegahan dari muslim paceklik. Kehancuran jadi tersembunyi dari bany Hasyim (marganya Nabi saaw), maka mereka disisinya (Muhammad) tetap dalam bahgia dan keutamaan.

“Sepanjang umur aku telah tuangkan rasa cinta kepada Ahmad.

Dan aku menyayanginya dengan kasih sayang tak terputus.

Mereka sudah tahu bahwa anak yatim tidak berbohong.

Dan tidak pula berkata dengan ucapan yang bathil.

Maka siapakah sepertinya diantara manusia hai orang yang berfikir.

Jika dibanding pemimpinpun dia lebih unggul.

Lemah lembut, bijaksana, cerdik lagi tidak gagabah, suka santun serta tiada pernah lalai.

Ahmad bagi kami merupakan pangkal, yang memendekkan derajat yang berlebihan.

Dengan sabar aku mengurusnya, melindungi serta menepiskan darinya semua gangguan”.

Kiranya cukup, apa yang kami ketengahkan dari sya’ir-sya’ir Abu Thalib yang membktikan bahwa beliau adalah seorang mukmin dan telah menolong dan membela Nabi saaw, maka beliau termasuk orang-orang yang beruntung.

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS; 7;15)

Sesungguhnya Abu Thalib adalah orang yang telah mempercayainya, memuliakannya serta menolongnya, sehingga ia menentang orang-orang Quraisy. Dan ini telah disepakati oleh seluruh sejarahawan. Sebauah hadits Nabi saaw menyebutkan :”Saya (Nabi saaw) dan pengawal yatim, kedudukannya disisi Allah SWT bagaikan jari tengah dengan jari telunjuk”. Siapakah sebaik-baik yatim? Dan siapakah sebaik-baik pengasuh yatim itu?, Bukankah Abu Thalib mengasuh Nabi saaw dari usia 8 tahun sampai 51 tahun.

Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan :

“Ketika Rasul saaw diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliauberucap :”Paman, engkau memlihara diriku sejak kecil, mengasuhkusebagai anak yatim dan membelaku disaat aku sudah besar. Karena aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu”. Beliau lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata : ”Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu paman”.

Dalam buku Siratun Nabi saaw yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutkan: Abu Thalibmeninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy disekitarnya dan mengusapkan dua kalimat syahadat yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeckh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahwa Abu Thalib mengusapkan kalimat Syahadat diriwayatkan oleh Abu Bakar, yang dikutib oleh pengarang tersebut dari buku Sarah Nahjul balaghah III hal.312, Syekh Abthah hal.71nAl-Ghadir VII hal.370 & 401, Al-A’Yan XXXIX hal.136.

Abu Dzar Al-Ghifari seorang sahabat Nabi saaw yang sangat dicintai Nabi saaw bersumpah menyatakan, bahwa wafatnya Abu Thalib sebagai seorang mukmin (Al-Ghadir Vii hal.397).

Diriwayatkan dari Imam Ali Ar-Ridha dari ayahnya Imam Musa Al-Kadzim, riwaya ini bersambung sampai pada Imam Ali bin Abi Thalib dan beliau mendengar dari Nabi saaw, bahwa : “Bila tak percaya akan Imannya Abu Thalib maka tempatnya di neraka”. (An-Nahjul III hal.311, Al-Hujjah hal.16, Al-Ghadir VII hal.381 & 396, Mu’janul Qubur hal.189, Al-A’Yan XXXIX hal.136, As-Shawa’iq dll). Abbas berkata ;” Imannya Abu Thalib seperti imannya Ashabul Kahfi”.

Boleh jadi sebagian para sahabat tidak mengetahui secara terang-terangan akan keimana Abu Thalib. Penyembunyian Iman Abu Thalib sebagai pemuka Bany Hasyim terhadap kafir Quraisy merupakan strategi, siasat dan taktik untuk menjaga dan membela Islam pada awal kebangkitannya yang masih sangat rawan itu sangat membantu tegaknya agama Allah SWT.

Penyembunyian Iman itu banyak dilakukan ummat sebelum Islam sebagaimana banyak kita jumpai dalam Al-Qur’an, seperti Ashabul Kahfi (pemuda penghuni gua), Asiah istri Fir’aun yang beriman pada Nabi Musa a.s dan melindungi, memlihara dan membela Nabi Musa a.s, juga seorang laki-laki dalam kaumnya Fir’aun yang beriman dan membela pada Nabi Musa, Lihat Al-Quran; 40:28 berbunyi :”Dan seorang laki-laki yang beriman diantara pengikut-pengikut (kaum) Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata:’Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki (Musa) karena dia menyatakan: “Tuhanku adalah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dosanya itu, dan jika dia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah SWT, tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.

Jadi menyembunyikan iman terhadap musuh-musuh Allah tidaklah dilarang dalam Islam. Ada suatu riwayat dizaman Rasulullah saaw, demikian ketika orang-orang kafir berhasil menangkap Bilal, Khabab, Salim. Shuhaib dan Ammar bin Yasar serta ibu bapaknya, mereka digilir disiksa dan dibunuh sampai giliran Ammar,melihat keadaan yang demikian Ammar berjihad untuk menuruti kemauan mereka dengan lisan dan dalam keadaan terpaksa. Lalu dibritahukan kepada Nabi saaw bahwa Ammar telah menjadi kafir, namun baginda Nabi saaw menjawab:” Sekali lagi tidak, Ammar dipenuhi oleh iman dari ujung rambutnya sampai keujung kaki, imannya telah menyatu dengan darah dagingnya”. Kemudian Ammar datang menghadap Rasulullah saaw sambil menangis, lalu Rsulullah saaw mengusap kedua matanya seraya berkata:”Jika mereka mengulangi perbuatannya, mak ulangi pula apa yang telah engkau ucapkan”. Kemudian turunlah ayat (QS; 16;106) sebagai pembenaran tindakan Ammar oleh Allah SWT berfirman:”Barang siapa yang kafir kepada Allah SWT sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (tidak berdosa), akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah SWT menimpahnya dan baginya azab yang besar”.

Imam Muhammad bin Husein Mushalla AlHanafi (yang bermazhab Hanafi) ia menyebut dalam komentar terhadap kitab Syihabul Akhbar karya Muhammad ibn Salamah bahwa: “Barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumnya adalah kafir”. Sebagian ulama dari Mazhab Maliki berpandangan yang sama seperti Ali Al-Ajhuri danAt-Tulsamany, mereka ini berkata orang yang mencela Abu Thalib (mengkafirkan) sama dengan mencela Nabi saaw dan akan menyakiti beliau, maka jika demikian ia telah kafir, sedang orang kafir itu halal dibunuh. Begitu pula ulama besar Abu Thahir yang berpendapat bahwa barangsiapa yang mencela Abu Thalib hukumannya adalah kafir.

Kesimpulannya, bahwa siapapun yang coba-coba menyakiti Rasulullah saaw adalah kafir dan harus diperangi (dibunuh), jika tidak bertaubat. Sedang menurut mazhab Maliki harus dibunuh walau telah taubat. Imam Al-Barzanji dalam pembelaan terhadap Abu Thalib, bahwa sebagian besar dari para ulama, para sufiah dan para aulia’ yang telah mencapai tingkat ”Kasyaf”, seperti Al-Qurthubi, As-Subki, Asy-Sya’rani dll. Mereka sepakat bahwa Abu Thalib selamat dari siksa abadi, kata mereka :” Ini adalah keyakinan kami dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT kelak”.

Akhirnya mungkin masih ada kalangan yang tanya, bukankah sebagian besar orang masih menganggap Abu Thalib kafir, jawabnya :”Banyaknya yang beranggapan bukan jaminan suatu kebenaran”.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah SWT. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT) (QS;6:115).

Semoga kita dijadikan sebagian golongan yang mencintai dan mengasihi sepenuh jiwa ruh dan jasad kepada Nabi Muhammad saaw dan Ahlul Baitnya yang telah disucikan dari segala noda dan nista serta para sahabatnya yang berjihad bersamanya yang setia mengikutinya sampai akhir hanyatnya.

Sesungguhnya taufiq dan hidayah hanyalah dari Allah SWT, kepada-Nya kami berserah diri dan kepada-Nya kami akan kembali

sumber dari www.fatimah.org


~ ku menjejaki ahlul bayt kerana ku ingin menjadi sebahagian dari mereka - Ummu Husseini~