Thursday, April 23, 2009

Tasbih Fatimah Az-Zahra

Nabi Muhammad saw yang mengajarkan tasbih ini kepada puterinya yang tercinta Fatimah Zahra as, dan setelah diajarkannya pun beliau dengan senantiasa dan terus menerus secara berkesinambungan membaca tasbih ini, sehingga tasbih ini dikenal dengan “Tasbih Fathimah Zahra” as, dan memiliki keistimewaan tersendiri di sisi para Imam Ma’sum.

Bukti dari pernyataan di atas adalah sebuah riwayat hadits panjang, yang diriwayatkan oleh ketua ulama hadits Syekh Shoduq ra, dalam kitabnya “Man La yahduruhul Fakih” . Dinukil dari Amirul Mukminin Ali as, yang berbunyi : “Telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as kepada salah seorang dari kabilah Bani Saad, beliau bersabda: “Maukah engkau mengetahui sedikit dari keadaan Fatimah as, ketika beliau berada di rumahku, jika engkau menghendaki akan aku katakan?

Beliau walaupun seorang pribadi yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw, namun beliau masih tetap mengangkat air untuk keluarganya, sehingga tampak berbekas hitam di dadanya, dan begitu seringnya beliau menyapu rumahnya, sehingga banyak debu yang menempel dan melekat di bajunya, dan begitu sering beliau di depan tungku dengan api yang panas menyala, sehingga sebagian baju yang ia pakai berubah warnanya, bak seorang yang jatuh tertimpa musibah.” Aku katakan padanya: “Jika engkau datang menemui ayahmu dan meminta darinya seseorang yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumahmu ini, itu akan lebih baik dan sangat bermanfaat.”

Fatimah as, pergi menemui ayahnya, namun ada beberapa orang yang sedang berbicara di sekitar Rasulullah saw, melihat itu beliau mengurungkan niat untuk menemuinya dan kembali pulang ke rumahnya. Rasulullah tahu bahwa puteri kesayangannya datang menemuinya untuk satu hajat, namun sebelum dipenuhi hajatnya, beliau kembali pulang. Esok harinya Rasulullah datang ke rumah kami, dan ketika itu aku dan Fatimah masih sedang beristirahat. Nabi sebanyak tiga kali mengucapkan salam, kemudian kami berfikir kalau salam yang ketiga kalinya ini tidak kami jawab, maka beliau akan kembali pulang, kerana sudah menjadi tradisi beliau, jika untuk meminta izin masuk, beliau mengucapkan salam sebanyak tiga kali, jika diizinkan masuk, beliau akan masuk dan jika tidak, beliau akan kembali pulang.

Dan kami pun menjawabnya: “Salam atasmu wahai utusan Allah, silakan masuk.” Rasulullah saw masuk dan duduk persis di samping kepala kami, kemudian bertanya kepada putrinya: “Wahai Fatimah, kemarin engkau datang menemuiku, katakanlah apa hajatmu.? Kerana malu Fatimah tak menjawab pertanyaan ayahnya. Kemudian aku merasa takut seandainya tidak aku jawab pertanyaan itu maka beliau akan beranjak pulang. Ketika beliau bangun dan berdiri hendak beranjak pergi, dengan cepat aku mengangkat kepalaku dan berkata: “Wahai utusan Allah, akan aku katakan sesuatu padamu, bahwa sebenarnya Fatimah begitu sering mengangkat air untuk keluarganya, sehingga tampak berbekas hitam di dadanya, dan tak lepas beliau juga selalu menyapu rumahnya, sehingga banyak debu yang menempel dan melekat di bajunya, dan begitu seringnya beliau di depan tungku dengan api yang panas menyala, sehingga sebagian baju yang ia pakai warnanya berubah, bak seorang yang jatuh tertimpa musibah”.

Aku katakan padanya: “Jika engkau datang menemui ayahmu dan meminta darinya seseorang yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumahmu ini, itu akan lebih baik dan sangat bermanfaat.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Apakah ingin aku ajarkan pada kalian berdua sesuatu yang baik untuk kalian dan nilainya lebih baik dari seorang pembantu? dan sesuatu itu adalah ketika engkau hendak pergi tidur bacalah tiga puluh empat kali “Allah-u Akbar” dan tiga puluh tiga kali “Subhanallah” dan tiga puluh tiga kali “Alhamdulillah”. Kemudian Fatimah as mengangkat kepalanya dan dua kali (dalam riwayat lain tiga kali) berkata: “Aku rela dan senang dari Allah dan RasulNya.”

No comments:

Post a Comment

Post a Comment